COVID-19 yang parah sebabkan masalah kognitif lebih buruk
Elshinta
Jumat, 06 Mei 2022 - 09:11 WIB |
COVID-19 yang parah sebabkan masalah kognitif lebih buruk
Ilustrasi pasien COVID-19 (Pixabay)

Elshinta.com - Tingkat keparahan COVID-19 memiliki hubungan dengan penurunan kognitif pasien dan ini menandakan semakin parah kondisi pasien maka semakin buruk masalah kognitif yang mereka alami, ungkap sebuah studi dari Inggris dan dipublikasikan secara online di jurnal eClinicalMedicine pada 28 April 2022.

Penelitian ini seperti dikutip dari LiveScience, Jumat, melibatkan kurang dari 50 pasien COVID-19 dan memperkuat studi-studi sebelumnya yang menunjukkan infeksi virus corona meninggalkan dampak bertahan lama pada otak.

Sebelumnya, sebuah studi tahun 2021 memperlihatkan, mereka yang mengalami long COVID-19 mengalami berbagai gejala selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah infeksi awal mereka, termasuk kesulitan berpikir, sakit kepala, dan kehilangan kesadaran. indera penciuman atau rasa.

Gejala yang berkepanjangan ini tidak hanya dialami oleh mereka yang mengalami infeksi COVID-19 parah, tetapi juga orang dengan gejala ringan.

Baru-baru ini, sebuah penelitian menemukan pola penyusutan otak yang berbeda pada ratusan penyintas COVID-19, dan ada kemungkinan atrofi abnormal ini dapat berkontribusi pada defisit kognitif.

Studi baru di Inggris juga menyoroti kasus COVID-19 parah sehingga pasien memerlukan rawat inap. Peneliti mempelajari bagaimana pasien menjalani tes kognitif sekitar 6-10 bulan ke depan. Peneliti lalu membandingkannya dengan orang yang tidak pernah terkena COVID-19.

Penelitian ini melibatkan 46 orang yang menerima perawatan kritis untuk COVID-19 di Addenbrooke's Hosptal di Cambridge, Inggris, pada 10 Maret dan 31 Juli 2020. Partisipan berusia 28-83 tahun. Sebanyak 16 orang dari pasien ini menggunakan ventilator dan 14 orang di antaranya membutuhkan dukungan medis akibat kegagalan beberapa organ.

Para peneliti membandingkan ke-46 pasien ini dengan 460 orang dengan usia dan demografi yang sama dan sebelumnya tidak terkena COVID-19.

Semua partisipan diminta menyelesaikan delapan tes kognitif melalui platform Cognitron, platform pengujian yang dikembangkan oleh Imperial College London. Hasilnya, dibandingkan dengan kelompok kontrol, pasien COVID-19 menunjukkan konsistensi akurasi yang berkurang dan waktu pemrosesan yang lebih lambat pada tes, meskipun tingkat ketidakakuratan dan kelambatan bervariasi antar tugas.

Kemudian, kelompok COVID-19 menunjukkan defisit paling signifikan pada tugas analogi verbal, di mana mereka diminta untuk menyelesaikan analogi.

Mereka juga menunjukkan akurasi dan kecepatan yang lebih buruk pada tugas spasial yakni kala mereka diminta untuk memanipulasi bentuk 2D dalam pikiran mereka untuk memecahkan teka-teki.

Tingkat keparahan penurunan ini bervariasi antara masing-masing pasien tergantung pada tingkat keparahan infeksi awal mereka. Ini artinya, penurunan kognitif yang lebih buruk dialami pasien yang membutuhkan ventilator dan masalah organ.

"Kami menyimpulkan setiap pemulihan kognitif kemungkinan besar akan lambat. Penting juga untuk mempertimbangkan pemulihan kognitif dapat bervariasi antar individu tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan dasar-dasar neurologis atau psikologis, yang kemungkinan kompleks," kata peneliti.

Para peneliti berharap studi semacam ini akan memungkinkan mereka untuk memahami mekanisme di balik penurunan kognitif, dan mungkin mencegah atau mengobatinya, demikian harapan penulis senior studi sekaligus profesor di Cambridge University David Menon kepada The Guardian.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Dokter spesialis: Penggunaan masker lama munculkan penyakit kulit
Sabtu, 28 Mei 2022 - 22:59 WIB
Dokter spesialis kulit Alamanda Murasmita menyebut penggunaan masker wajah terlalu lama memunculkan ...
Dokter: Waspadai beberapa gejala pasien gagal jantung
Sabtu, 28 Mei 2022 - 22:35 WIB
Ketua Pokja Gagal Jantung Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Siti Elk...
Satgas Yonif 126/KC dan Kemenkes beri layanan kesehatan warga Papua 
Sabtu, 28 Mei 2022 - 14:38 WIB
Satgas Pamtas Yonif 126/KC Pos Yabanda yang dipimpin Letda Inf Abdul Rais Nasution telah bekerjasama...
Wali Kota Magelang ajak jajaran RSUD Tidar bekerja cepat, tanggap dan profesional
Jumat, 27 Mei 2022 - 15:04 WIB
Wali Kota Magelang dr. Muchamad Nur Aziz mengajak seluruh jajaran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tid...
Ahli gizi ingatkan agar lansia batasi asupan GGL
Jumat, 27 Mei 2022 - 07:15 WIB
Ahli gizi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Dr. Atmarita, MPH mengingatkan agar kelompok ...
Ahli gizi ingatkan lansia cukup minum meski aktivitas fisik kurang
Jumat, 27 Mei 2022 - 00:11 WIB
Ahli gizi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Dr. Atmarita, MPH mengingatkan kaum lanjut u...
Rentang usia penggunaan vaksin PCV13 Pfizer kini diperluas
Kamis, 26 Mei 2022 - 14:59 WIB
PT Pfizer Indonesia mengatakan Vaksin Konjugat 13-valensi Pneumokokus (PCV 13) telah menerima perset...
Hepatitis akut sebabkan kerusakan hati yang parah
Selasa, 24 Mei 2022 - 10:31 WIB
Siaran PersSaat Indonesia mulai bernapas lega dengan menurunnya tren kasus Covid-19, penyakit bar...
Psikolog: Tetap prokes atasi cemas di tengah pelonggaran masker
Selasa, 24 Mei 2022 - 08:27 WIB
Psikolog Mega Tala Harimukthi menyarankan orang-orang yang masih khawatir dengan dirinya sendiri di ...
Pria dengan masalah kesuburan berisiko terkena kanker payudara
Senin, 23 Mei 2022 - 19:21 WIB
Penelitian terbaru menemukan bahwa pria yang tidak subur kemungkinan dua kali lebih beresiko terkena...
InfodariAnda (IdA)