Indonesia dan Malaysia Jadi Angin Segar di Tengah Suramnya Hutan Dunia
Elshinta
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:36 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Indonesia dan Malaysia Jadi Angin Segar di Tengah Suramnya Hutan Dunia
VOA Indonesia - Indonesia dan Malaysia Jadi Angin Segar di Tengah Suramnya Hutan Dunia
Indonesia dan Malaysia, yang rutin termasuk di antara negara-negara yang memimpin dalam hilangnya wilayah hutan terbesar setiap tahun di dunia, sama-sama kehilangan lebih sedikit hutan primer dibandingkan dengan tahun sebelumnya untuk tahun kelima pada 2021, menurut data terbaru. World Resource Institute (WRI) yang berbasis di AS dan merilis data terbaru mengenai hilangnya hutan global bulan lalu, menyebut negara-negara Asia Tenggara itu menyambut baik “pengecualian” dalam apa yang merupakan tahun suram bagi hutan di seluruh dunia. Namun, WRI dan pihak-pihak lain memperingatkan bahwa sejumlah kekuatan yang kian besar dapat menyebabkan hilangnya lagi wilayah hutan di kedua negara itu dalam beberapa tahun mendatang. Menurut WRI, Indonesia kehilangan sekitar 203 ribu hektare hutan primer tahun lalu, turun dari 270 ribu hektare pada tahun sebelumnya, dan jauh di bawah puncaknya, 929 ribu hektare, yang tercatat pada 2016. Sementara itu hutan primer yang hilang di Malaysia turun dari sekitar 73 ribu hektare pada 2020 menjadi 72 ribu hektare tahun lalu. Kehilangan ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang dialami Brazil, di mana 1,55 juta hektare hutan primer lenyap tahun lalu. Hutan-hutan di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, masih penting dalam perang global melawan perubahan iklim, kata Elizabeth Goldman, manajer riset senior WRI. “Hutan menyimpan dan menyerap karbon, dan ketika hutan-hutan ini ditebang atau dibakar atau terdegradasi, maka karbon yang tersimpan di dalam hutan – di kayu, daun dan semua biomassa – dapat dilepaskan ke atmosfer sebagai emisi. Dan Indonesia masih memiliki banyak hutan primer yang lembab … Indonesia memiliki hutan primer terbesar ketiga … di kawasan tropis,” katanya kepada VOA. Hutan hujan primer di kawasan tropis, hutan tua yang sebagian besar tak tersentuh oleh aktivitas manusia, adalah sebagian di antara ekosistem paling kaya karbon dan keanekaragaman hayati di dunia. Itu sebabnya mengapa berkurangnya wilayah hutan yang lenyap di Indonesia dan Malaysia sangat membesarkan hati, kata Goldman, bukan hanya bagi mereka, tetapi sebagai teladan bagi negara-negara lain. “Ketika sebuah negara melihat hilangnya wilayah hutan berkurang selama satu atau dua tahun, kami selalu merasa optimistis dengan berhati-hati, karena dapat saja ada fluktuasi data. Tetapi penurunan lima tahun berturutan menurut saya merupakan alasan untuk merayakannya dan menunjukkan bahwa segala sesuatunya berjalan baik, terutama di Indonesia,” lanjutnya. WRI mengaitkan gabungan antara kebijakan pemerintah dan komitmen perusahaan atas keberhasilan yang diraih Indonesia dan Malaysia. Indonesia telah memiliki moratorium mengenai pembersihan hutan primer sejak 2011, membuatnya permanen pada tahun 2019, dan satu lagi mengenai penerbitan izin baru bagi perkebunan sawit sejak 2018. Dengan taktik yang berbeda, Malaysia pada 2019 berkomitmen untuk membersihkan tidak lebih dari 600 ribu hektare hutan sawit hingga tahun 2023 untuk memperlambat hilangnya wilayah hutannya. Indonesia dan Malaysia masing-masing adalah produsen terbesar dan terbesar kedua minyak sawit, dan bersama-sama mengisi 85% pasokan minyak sawit dunia yang digunakan untuk berbagai hal, mulai dari mi instan hingga kosmetik dan bahan bakar hayati. Perkebunan sawit di kedua negara ini juga menjadi penyebab hilangnya sebagian besar wilayah hutan mereka. [uh/ab]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Biden Akhiri Lawatan ke Asia dan Peringatkan China
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Mengakhiri lawatan enam harinya ke Asia, Presiden Joe Biden menggunakan peristiwa perang di Ukraina ...
Meski Ditolak Akademisi, Tunisia Lanjutkan Pembuatan Konstitusi Baru
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Pemimpin komite yang ditugaskan menyusun konstitusi baru Tunisia, Sadok Belaid, pada Rabu (25/5), me...
Sanksi Ekonomi terhadap Rusia Buat Para Pelaku Ransomware Frustrasi
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Invasi Rusia ke Ukraina tampaknya menuai dampak tidak terduga dalam dunia siber, di mana jumlah sera...
Ledakan di Masjid Kabul dan Afghanistan Utara Tewaskan Setidaknya 14 Orang
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Rangkaian ledakan telah mengguncang Afghanistan, termasuk di dalam sebuah masjid di Kabul yang menew...
Turki tuntut Langkah Konkret untuk Beri Dukungan pada Swedia-Finlandia Masuk NATO
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Setelah melangsungkan pembicaraan dengan pejabat Swedia dan Finlandia pada Rabu (25/5), seorang peja...
Long COVID Lebih Banyak Dialami Lansia; Vaksin Tidak Mencegah
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Hasil penelitian baru di Amerika Serikat memberi bukti baru bahwa long COVID bisa terjadi bahkan pad...
Jepang, AS Terbangkan Pesawat Tempur untuk Tanggapi Aksi China, Korut
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Jepang dan AS secara bersama-sama menerbangkan jet-jet tempur di atas Laut Jepang sebagai tanggapan ...
Wali Kota Kyiv: Ukraina adalah ‘Kunci Kebebasan di Dunia’
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Menyebut Ukraina sebagai “kunci kebebasan di dunia,” Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko pada Kamis ...
Mantan PM Pakistan Tuntut Pemilihan Baru Ditetapkan dalam 6 Hari
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Mantan perdana menteri Imran Khan, Kamis pagi (26/5), mengatakan ia memberi pemerintah Pakistan wakt...
Usulan RUU di Bangladesh Timbulkan Ketakutan Kebebasan Berekspresi
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:45 WIB
Bangladesh berencana untuk memperkenalkan undang-undang, yang hampir pasti akan disahkan, yang menur...
InfodariAnda (IdA)